Campione! v16 Bab 1

Donate to Paypal!

BAB 1
KEMUNCULAN RAJA IBLIS DAN KSATRIA

[Kutipan dari buku Raja Iblis, yang ditulis oleh mage Italia abad ke-19 Alberto Rigano]

Atas masing-masing orang yang telah mencapai prestasi yang mengerikan, aku akan memberikan gelar "Campione."

Pembaca yang bijak mungkin mengungkapkan keraguan mengenai gelar ini, mungkin menolak catatanku sebagai pembesar-kejayaan.

Tapi izinkan aku untuk menekankan sekali lagi.

Campione adalah penakluk.

Karena mereka mampu membantai dewa-dewa langit, agar mendapatkan kekuatan tertinggi.

Campion adalah raja.

Karena mereka mampu menguasai siapapun di Bumi dengan memegang otoritas yang dirampas dari para Dewa.

Campion adalah Raja Iblis.

Karena tak ada orang fana yang bisa melawan kekuatan mereka!



Pada suatu pagi musim semi tertentu, langit cerah dan terang tanpa awan bermil-mil jauhnya.

Langit biru yang menyegarkan dan sejuk di bulan Mei membentang di atas kepala sampai sejauh mata memandang. Meski begitu, dada kecil Alessia yang berusia tiga belas tahun penuh dengan kegelisahan. Berbeda dengan cuaca, suasana hatinya hampir tidak ceria.

"...Kalau saja semuanya bisa setenang hari ini."

Dia bergumam pada dirinya sendiri dengan pelan saat dia menyusuri jalan setapak melalui ladang menuju biara.

Alessia tinggal di sebuah desa terpencil yang terletak di wilayah tengah Italia, Tuscany. Di sini, penduduk kebanyakan mencari nafkah dari pertanian dan kehutanan. Tempat ini hanyalah sebuah desa kecil dan bukan objek wisata.

Juga, Alessia hanyalah seorang murid SMP biasa yang tinggal di desa ini... Yah, tidak persis.

Dia memiliki keterampilan rahasia. Yakni, "sihir." Keterampilan yang tak menyenangkan ini adalah kemampuan yang dia dapatkan secara bertahap di bawah bimbingan seorang bhikkhu tua yang dulunya tinggal di biara di pintu masuk desa sampai dia meninggal beberapa bulan yang lalu.

Setelah pria tua itu meninggal, menyapu dan membersihkan biara kuno ini menjadi tugas harian Alessia.

Dia menghadap bangunan batu Romawi ini, bangunan yang bisa dibangun pada abad kedua belas. Saat dia maju menuju kedalaman kapel, dia menggumamkan alasan mengapa dia khawatir.

"...Bagaimana situasi di bawah tanah? Kalau saja itu beres..."

Pria tua misterius yang pernah tinggal di sini telah diam-diam memberitahu dia sebelumnya. Dia mengaku bukan biarawan biasa, melainkan milik ksatria yang menguasai sihir langka. Lebih jauh lagi, ia pun bilang bahwa Alessia memiliki bakat yang sama seperti dirinya.

Itulah yang dia katakan di masa lalu saat dia mengajari Alessia sihir dasar.

"Tempat suci yang didedikasikan untuk dewa kuno dari bentuk aneh... Biara ini dibangun untuk menyembunyikan jejaknya. Seperti hewan buas bentuk aneh ini, mungkin ini mengacu pada 'Dewi Hewan' tertentu."

"Dewi Hewan?"

"Ya. Dengan beberapa kesempatan yang tak dapat dipahami, para [Dewa Sesat] ini turun ke Bumi dengan kesederhanaan yang mengkhawatirkan. Dan mereka membawa bencana, yang menyebabkan kesusahan besar bagi kita para manusia."

Ini adalah kata-kata yang tidak beriman dari seorang pria tua, seseorang tanpa kerabat untuk menemani hari-hari terakhir dan kematiannya.

Alessia mengingat kejadian itu saat dia berusaha meyakinkan diri dengan gentar.

Di bawah posisinya saat ini adalah lokasi bawah tanah di mana prana yang mengerikan bisa dirasakan mulai seminggu yang lalu.

Oleh karena itu, secara alami dia mengingat kembali apa yang dia dengar tentang "dewa-dewa". Serta peringatan pria tua almarhum dari pintu "Jangan pernah dibuka apapun yang terjadi." Pintu itu tersembunyi di balik patung Perawan Maria.

Di sudut kapel ada patung Maria yang dicat hitam karena suatu alasan.

Rupanya, dinding di belakang patung bisa didorong dan diputar untuk mencapai ruang yang dalam di sisi lain.

Seminggu sebelumnya, merasakan prana yang kuat, Alessia telah mencoba membuka pintu dengan gentar.

...Di belakang pintu ada tangga yang menuju ke bawah tanah. Mencapai bagian bawah, dia menemukan jalan menuju gua alami.

Dia tidak memiliki keberanian untuk melanjutkan. Ruang hitam yang tak ada habisnya terasa mengerikan. Namun, alasan utamanya adalah karena dia mendengar lolongan hewan buas.

Terkadang terdengar seperti menggonggong anjing kadang-kadang meringkuk kuda.

Serta kicauan burung, dan tangisan aneh dari beberapa jenis hewan buas. Tapi, dia tidak pernah mendengar suara yang sama dua kali...

Saat itu, dengan panik Alessia berlari menaiki tangga dan kembali ke kapel—

Dalam seminggu terakhir, saat prana di bawah tanah secara bertahap meningkat setiap hari, ketidaknyamanannya meningkat. Lalu pada pagi ini, Alessia merasa sangat tidak nyaman saat dia masuk ke kapel.

Ini adalah hasil dari bermandikan prana yang lebih kuat dari yang pernah dia rasakan sebelumnya.

"Apa Dewa hebat benar-benar turun...?"

Sama seperti hati Alessia yang penuh dengan kekhawatiran dan dia akan bergumam lagi.

Clang! Clang! Dampak metalik bisa terdengar dari atas langit-langit. Ini adalah hasil dari sihir [Alarm] yang dipicu.

Ini berlaku setiap kali ada yang berada di atas ambang batas prana yang mendekati biara tersebut.

Ini adalah pertama kalinya Alessia mendengar suara ini.

Ini adalah sihir yang dia lakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap penyusup dari luar. Meski begitu, dia senang sekali. Meskipun dia tidak tahu mengapa mereka datang, setidaknya mage hebat dan kuat pasti sudah memasuki area tersebut. Ini bisa jadi kesempatannya untuk mencari nasihat mengenai Dewa yang akan terbangun di bawah tanah!

Alessia memusatkan penglihatan prananya untuk membaca laporan bahaya yang diberikan oleh mantra [Alarm].

Luar biasa kuat— Tidak bagus, "terlalu kuat" itu sepertinya bergerak di sepanjang sungai di belakang gunung. Alessia segera bergegas keluar, berharap bisa menangkap kehadirannya sebelum pergi.

Pada pagi musim semi yang sejuk dan menyegarkan ini, awan kemerahan Mei bisa terlihat mengambang perlahan di langit.

Namun, suasana hati Kusanagi Godou saat ini tak ada hubungannya dengan sejuk dan menyegarkan.

Ini wajar saja. Sebelumnya, dia telah menghabiskan sepanjang malam melawan monster yang sosoknya tidak dia lihat. Pada akhirnya, dia tersapu sungai dan telah menempel ke kayu apung sementara dia melayang selama beberapa menit yang lalu.

Baru sekarang dia berhasil melewati pantai dengan susah payah.

Tapi, Godou terluka. Tubuhnya ditutupi luka bakar dan punggungnya mengalami luka yang parah. Dia ditutupi dengan memar-memar. Meski begitu, sensasi menyakitkan ini membuatnya merasa senang bisa hidup.

"Rasanya... Rasanya aku mulai terbiasa dengan hal-hal semacam ini..."

"'Rasanya' benar-benar berlebihan, Godou. Kamu sudah terbiasa dengan petualangan semacam ini."

"Partner" ini menyatakan dengan mudah kepada Godou saat dia mengalami rasa sakitnya.

Erica Blandelli. Gadis cantik yang memiliki rambut pirang berkilau yang cemeralang.

Namun, kecantikannya tidak hanya berdasarkan penampilan fisiknya, karena aura ambisi dan kecerdasan Erica yang terpancar dari seluruh keberadaannya adalah penyumbang utama kesan glamor yang ia tinggalkan pada orang lain.

"Jelas begitu sedikit waktu telah berlalu sejak kamu mengalahkan Verethragna di pulau Sardinia... Tapi di semua aspek, kamu sudah menjadi Raja Iblis yang bisa berdiri dengan sendirinya. Aku bisa menjamin ini sepenuhnya."

"Jaminan semacam itu sama sekali tidak perlu... Yah, terserah."

Duduk dengan tenang di tepian sungai karena kelelahan, Godou angkat bicara.

"Terima kasih atas bantuanmu kali ini juga. Terima kasih."

Setelah pertempuran melawan Dewa Perang Persia Verethragna dan menjadi "Campione," segala macam kekacauan meledak satu per satu.

Setelah itu, dia telah melawan dewa langit Mediterania kuno Melqart di pulau Sisilia, dan juga tiba di Milan untuk melawan rekannya sesama Campione, Salvatore Doni, si jenius pedang...

Satu-satunya alasan Godou mampu mengatasi semua tantangan mematikan ini, adalah karena bantuan dan dukungan Erica.

...Nah, kali ini, semuanya berawal dari dia "ayo kita periksa monster belut raksasa ini yang sudah terlihat di Tuscany" sarannya. Dia adalah pelakunya yang sebenarnya yang mengusulkan dan memaksanya untuk melakukan usaha ini.

Tapi terlepas dari segalanya, dia menjadi penyelamatnya tetap sebagai fakta yang tidak dapat diubah.

Tidak hanya Godou yang benar-benar basah karena terbawa arus sungai, Erica juga sudah basah kuyup. Ini karena "partner"-nya telah melompat ke sungai untuk menarik Godou kembali ke darat. Demi menyelamatkan Godou, dia melakukannya tanpa ragu sedikit pun.

Sungai yang mengalir di depan mereka adalah Arno.

Dikatakan sebagai sungai besar yang melintasi wilayah Tuscany dari Timur ke Barat. Namun, karena lokasi pegunungan saat ini, sungai itu tidak terlalu lebar. Begitulah pemandangan yang terbagi ini sedikit lebih besar dari rata-rata sungai.

"Sungai ini rupanya melewati Florence, ya?"

"Ya. Melanjutkan sepanjang hilir harusnya sampai di kota bunga lili, Florence. Kalau kamu melangkah lebih jauh menyusuri sungai, kamu akan sampai di Pisa, yang terkenal dengan menara miringnya. Di luar itu, sungai mengalir ke Laut Tyrrhenian."

Yang Erica ucapkan adalah kota paling terkenal yang terletak di wilayah Tuscany.

Mendengar nama geografis yang familier ini, Godou bergumam dengan perasaan tulus.

"Betapa beruntungnya aku tidak perlu melakukan tur sungai melalui tempat-tempat itu..."

"Tapi justru karena kamu itu Godou, bukankah akan sangat tidak pantas mati tenggelam?"

Sepenuhnya basah kuyup, Erica memiliki ekspresi serius. Sepertinya dia tidak bercanda.

Godou merasa sedikit tidak senang. Meskipun dia percaya bahwa tubuhnya "mungkin" agak berlebihan dalam kemampuan bertahan hidup, setidaknya hasil yang tidak masuk akal seharusnya tidak terjadi. Mungkin...

Merasakan udara dingin di tubuhnya yang benar-benar basah kuyup, Godou menggigil.

Kekuatannya sudah habis. Sepertinya dia telah kehilangan terlalu banyak darah dan energi dari hanyut ke sungai dengan semua luka-lukanya. Melihat kondisinya, Erica tersenyum sambil tertawa kecil. Alih-alih mengambil kesenangan sadis dalam kemalangan Godou, itu mungkin sebaliknya.

Meskipun Godou tahu apa yang dipikirkannya, itu sudah terlambat.

Pada saat berikutnya, Erica telah mendekati dengan cepat dan memeluk Godou di pelukannya.

"Hoho. Sekarang pertama-tama kita harus menyembuhkan lukamu. Terimalah ini dengan patuh."

Erica memamerkan senyum memikat pada Godou saat dia berbisik pelan. Dia menarik wajahnya sangat dekat.

Seandainya dia mendekat 10cm atau lebih, wajah mereka mungkin akan terjebak rapat.

"Tidak, jangan. Lagi pula, tubuhku harus sembuh sendiri!"

Tubuh Kusanagi Godou sudah menjadi salah satu yang "tidak bisa mati dengan mudah."

Meskipun ini benar-benar di luar logika umum, meski dia mengalami cedera yang cukup parah, tidur siang mungkin tidak cukup untuk menyembuhkan keadaan sepenuhnya.

"Jadi, penyembuhannya tidak sepenuhnya sia-sia, kamu tahu?"

Erica tersenyum polos dan dengan manisnya saat dia menempelkan bibirnya ke wajah Godou.

"Saat ini, kamu harus memulihkan lukamu secepat mungkin dan mengeringkan pakaianmu. Untuk tujuan ini, semua usaha harus dihabiskan. Karena aku adalah kekasihmu yang berdiri sebagai ksatria Kusanagi Godou... Bahkan menawarkan bibirmu sama sekali tidak biasa."

"I-Itulah masalahnya!"

Seperti kemampuan supranatural untuk bertahan hidup, ini juga bagian dari keadaan tubuh baru yang telah Godou dapatkan.

Yakni, perlawanan mutlak terhadap sihir. Setelah terlahir kembali sebagai Campione, seseorang menjadi kebal terhadap semua sihir, membuatnya tidak efektif.

Ini diterapkan tanpa pandang bulu terhadap semua sihir, baik ramah atau bermusuhan.

"Tapi, asalkan melalui asupan oral, sihir masih bisa diaplikasikan padamu. Hoho, aku benar-benar harus mengungkapkan rasa terima kasihku terhadap adanya celah seperti itu. Berkat itu, aku tidak hanya bisa membantu Godou tapi juga bisa menikmati kesenangan berciuman denganmu."

Dengan nada suaranya yang menggoda, Erica meraih bibir Godou.

Ciuman manisnya yang menutup mulutnya, Godou mulai merasa pusing. Bibir lembutnya itu terasa menyenangkan tanpa keyakinan, menjatuhkannya ke dalam kegairahan. Erica mulai dengan mengecup-kecup ringan di bibir Godou lalu mulai menciumnya seakan mencoba menyelimuti seluruh mulutnya.

Lalu menggunakan bibirnya yang basah untuk membelai bibir Godou, dia memasukkan lidah ke dalamnya.

Dengan menggunakan lidahnya untuk mengikat Godou, kedua lidah itu terjerat satu sama lain. Lidah dan lidah saling melilit dalam kontak intim yang terpisah.

Dengan intensitas emosi yang besar, Erica membuka bibirnya dan dengan hati-hati menikmati rasa mulut Godou. Dengan gaya Latin yang penuh gairah, dia mencari lidah Godou, menjilatinya dengan berani.

Lalu Godou merasakan sihir [Pemulihan] mengalir keluar dari mulutnya, mengurangi rasa sakitnya.


"Hei Erica. Lukaku sudah sembuh, bukankah saatnya berhenti..."

Tapi, si cantik pirang ini terus menjilat bibirnya, sama sekali tidak peduli.

"Baiklah. Ciuman tadi adalah untuk menyembuhkan lukamu. Mulai saat ini, ciuman itu murni untuk menikmati kesenangan bergaul denganmu, tugas untuk menegaskan cinta kita."

Nyata Erica.

Jelas, dia tidak menggerakkan bibirnya. Dia bercakap-cakap dengan Godou dengan berbisik saat dia menciumnya.

...Pada akhirnya, ciuman ini bertahan selama lima menit lagi sampai Erica akhirnya melepaskan bibirnya. Namun, alasannya bukan karena dia bosan berciuman.

"Waktunya menghangatkan tubuh kita. Aku akan menyalakan api sekarang."

Berdiri di tepi sungai dengan pakaian basah kuyup, keduanya merasa sangat dingin.

Merasa malu, Godou mengangguk sekali dengan tegas seakan tak bisa menatap wajah Erica.

Mereka berdua telah bertemu untuk pertama kalinya menuju Selatan semenanjung Italia, di pulau Mediterania, Sardinia.

Sementara mereka berlarian mengelilingi pulau itu, sikap Erica terhadap Godou agak tidak bersahabat.

Tapi, setelah mengalami banyak percobaan putus asa bersama, sebelum mereka menyadarinya, Erica telah berubah sampai-sampai dia bisa menyatakan "cintanya" kepada Godou secara terbuka.

Tidak hanya secara verbal, tapi juga dalam sikap dan perilaku. Bahkan sampai terlibat dalam ciuman penuh gairah semacam ini...

"Hei Godou, sekarang setelah masalah setelah pertempuran ditangani, kenapa kita tidak menghabiskan waktu bersama untuk membuat kenangan manis dan penuh cinta?"

Selain itu, dia bahkan mengajukan permintaan ini. Godou bertanya dengan panik:

"Uh, umm, apa?"

"Kenangan manis dan penuh cinta. Aku sudah berbicara dengan Paman. Siapa tahu kalau itu akan menjadi beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan, tapi pasti aku berniat memiliki anak-anak denganmu, Godou, jadi kita harus berkoordinasi."

"Anak-anak!"

"Aku tidak punya niat untuk terburu-buru, tapi ini tak terelakkan. Kamu harus mempersiapkan diri lebih dulu."

Mengabaikan kejutan yang tak terduga dari Godou, Erica menjentikkan jarinya dengan keras.

Gumpalan api tiba-tiba menyala di depan mata mereka. Ini rupanya sihir menyalakan api langsung.

"Enaknya..."

Godou menenangkan emosinya dan berjalan di dekat api. Erica melakukan hal yang sama.

Keduanya berkumpul mengelilingi api unggun, menghangatkan badan dingin mereka. Tapi dua menit kemudian, Godou mulai berteriak.

"Hei, apaan! Apa yang sedang kamu lakukan!?"

Erica melepaskan pakaian basahnya di depan api secara perlahan.

"Apa yang kamu bicarakan, Godou? Bukannya aku bisa terus memakai pakaian seperti ini, kan?"

"Benar, kamu benar! Tapi aku di sini—ada orang yang hadir, tahu!?"

"Saat pulau Sisilia, apa kamu tidak melihat tubuh telanjang Erica Blandelli, milikku sepenuhnya? Kalau cuma ini, apa yang harus kamu khawatirkan?"

Sambil tersenyum menggoda, Erica menunjukkan sosoknya di hadapan Godou dengan berani.

Satu-satunya hal dari pakaian di tubuhnya adalah bra merah dan celana dalamnya.

Kulitnya yang pucat dan murni tampak memusingkan. Lebih jauh lagi, proporsi yang lain dari sosoknya sangat mengganggu Godou. Meski tubuh Erica ramping, tubuhnya menggairahkan dan penuh di semua tempat yang tepat namun ramping dan kencang bila sesuai.

Melihat tubuh sempurna yang akan membuat model majalah malu membuat Godou menjadi panik.

Melihat Godou dalam keadaan seperti itu, Erica menunjukkan senyuman seperti wanita, penuh dengan penerimaan terbuka. Meski begitu, jenis nakal dan kepribadian yang luas ini memang cukup menarik—

"Godou, bukankah sebaiknya kamu membukanya juga? Apa kamu tidak dingin memakainya?"

"Merasakan dingin itu bagus!"

Meskipun tubuh bagian atas Godou telanjang, dia terus memakai celana jinsnya.

Ini karena dia memperhatikan kehadiran wanita di depannya. Tapi yang mengejutkan, dia bertindak sedemikian rupa. Dunia batin Godou berubah dalam kekacauan total, jantungnya berdegup kencang tak terkendali.

Tapi segera...

Ekspresi wajah Erica tiba-tiba menegang dan melakukan sihir [Memanggil].

Ini adalah mantra untuk memanggil objek pribadi dari lokasi tertentu. Yang dia panggil adalah pakaian yang menyerupai jubah pendek. Jubah ini bergaris dengan warna merah dan hitam rossonero. Membungkus bahunya, Erica menutupi tubuh bagian atasnya.

Godou juga mempersiapkan sikapnya.

Mungkin, Erica berusaha mencegah tubuhnya yang telanjang dilihat oleh seseorang selain Godou. Itu sebabnya dia menutupinya? Dengan kata lain, seseorang mungkin sudah mendekat sekarang.

Sebagai master swordsman selain menjadi mage, apakah dia mendengar suara langkah kaki atau merasakan kehadiran seseorang?

Setelah beberapa saat, seorang gadis berlari. Dia tampak berusia dua belas atau tiga belas tahun, dan memberikan kesan yang lucu. Begitu melihat api Erica menyala, dia terlonjak kaget.

"Sihir? Apa kalian dua pengguna sihir!?"

Ini adalah awal dari sebuah "keributan kecil" di mana Kusanagi Godou berhasil masuk.

"Dengan kata lain, Alessia, kamu diajari oleh seorang mage yang berasal dari keturunan Templar Knight dan dia tinggal di biara ini."

Ujar Erica di halaman depan biara kuno yang dibangun dari batu itu..

Godou dan Erica sudah mengenakan pakaian yang diambil Alessia dari rumahnya sendiri untuk mereka. Setelah itu, mereka telah menempuh perjalanan dari sungai Arno menuju ke biara ini.

"Templar Knight...?"

"Ini mengacu pada ksatria Eropa abad pertengahan dan biarawan yang menguasai ilmu pedang dan sihir. Baik tuanmu dan aku adalah keturunan mereka. Hoho, tidak apa-apa kalau belum mengerti."

Erica tersenyum saat Alessia terlihat sangat terkejut.

Sepanjang jalan ke sini, si cantik pirang itu telah berbincang dengan gadis muda itu dengan lembut, berhasil mencari tahu dari gadis itu "bagaimana dia belajar sihir."

Ada juga alasan mengapa mereka datang ke sini bersama Alessia. Di tepi sungai sekarang, dia telah mengajukan permintaan.

'Kumohon! Kalau tidak begitu mengganggu, maukah kalian datang dan membiarkan aku mendiskusikan sesuatu dengan kalian!? Ini sangat penting!'

Sepertinya itu adalah kasus yang melibatkan sihir. Untuk mengucapkan terima kasih atas bantuannya dalam meminjamkan pakaian, Godou dan Erica telah datang ke tempat ini.

"Lalu apa yang ingin kamu diskusikan? Tapi biar kubilang dulu bahwa aku tidak tahu banyak tentang hal-hal seperti mantra dan sihir. Di sisi lain, Erica ini adalah seorang ahli jadi aku yakin dia bisa membantumu."

Erica mengangguk seakan mengatakan "Yah, tidak masalah" sebagai respons terhadap Godou.

Lalu Alessia berbicara dengan ekspresi canggung—

"Yah. Sebenarnya, ada kemungkinan bahwa seorang Dewa akan bangun di bawah tanah di bawah biara ini..."

Laporan mengejutkan Erica berkata "baik" dan menatap dengan mata melebar saat ia tersenyum sedikit masam.

Di sisi lain, Godou hanya berkata "Eh" tanpa emosi dengan bergumam.

Beberapa jam yang lalu, dia telah bertempur melawan apa yang dikenal sebagai pelayan dewa...

Melihatnya seperti ini, Erica tertawa terbahak-bahak di sampingnya. Godou sedikit jengkel dengan sikapnya yang sembrono. Berbeda sekali dengan reaksi sesepuhnya, Alessia tetap tidak tahu apa-apa.

Erica memulai penyelidikan yang menyimpulkan kira-kira dua jam kemudian.

Pertama, dia melihat-lihat dokumen dan sumber daya yang ditinggalkan oleh biarawan yang almarhum. Kemudian dia pergi ke kapel dan menatap patung Perawan Maria yang dilukis hitam.

Akhirnya, dia membuka pintu yang tersembunyi di balik patung Maria dan pergi ke bawah tanah. Lalu sepuluh menit berlalu.

Melihat Erica kembali, Godou bertanya padanya dengan santai:

"Lalu bagaimana? Benarkah ada dewa di bawah?"

"Dalam keputusan, tak ada satupun."

Mendengar ucapannya begitu, mata Alessia diterangi dengan harapan, tapi Godou tahu itu tidak sesederhana itu.

Dia memperhatikan bahwa Erica masih harus mengatakan lebih banyak.

"Meskipun tidak ada dewa di sini, ada seorang pelayan — seekor hewan dewata — dalam proses kebangkitan. Kira-kira tiga atau empat hari, akan terbangun sepenuhnya dan mulai aktif."

"Yang lainnya!"

Monster yang dikenal sebagai "hewan dewata" adalah makhluk suci yang melayani dewa. Beberapa jam yang lalu, Godou melawan salah satu dari mereka. Mendengar penjelasan ini, Alessia membungkuk ke arah Erica.

"Apakah para pelayan dewa-dewa besar itu sangat berbahaya!?"

"Ya. Hewan dewata yang tidur di bawah tanah lebih dari sekadar bawahan Artemis, dewi bulan dan tanah, ratu hewan. Kalau terbangun, apalagi desa ini, takkan aneh kalau seluruh wilayah Tuscany akan musnah."

Erica melirik raut muka Godou saat dia berbicara.

Alih-alih memberi tahu gadis itu, dia berusaha membuat Godou mengerti.

"Musnah—!?"

Alessia menelan ludah. Sementara itu, Godou tengah mengertakkan giginya.

Jika itu yang terjadi, pertempuran tidak bisa dihindari lagi... Dengan keputusasaan seperti itu, dia berbicara dengan Alessia.

"M-Maukah kamu keluar dan meninggalkan kami sebentar? Aku harus mengadakan konferensi strategi dengan Erica."

"Inilah yang dikenal sebagai percakapan orang dewasa."

Tambah Erica. Berpikir dia akan menggunakan nada deskripsi semacam itu.

Godou memelototinya tapi Erica tersenyum pura-pura tak tahu apa-apa.

Begitu mereka berdua satu-satunya yang tersisa di kapel kuno, Erica berbicara dengan sangat senang:

"Hoho. Takdir pasti bekerja keras untuk memperkuat cinta antara Godou dan aku. Kalau begitu, mari kita nikmati ciuman penuh gairah lainnya?"

"T-Takdir begitu, siapa yang bisa menahan hal seperti itu!"

"Yah, kamu juga bisa menyebutnya keberuntungan sederhana. Tidak mengubah fakta bahwa kita harus berciuman."

Erica tersenyum sambil tertawa saat Godou menundukkan kepalanya.



"Dewa yang kamu kalahkan di pulau Sardinia adalah Dewa Perang Persia kuno, Verethragna."

Mengabaikan Godou dalam kesedihannya, si cantik pirang itu berbicara dengan nyaring seakan menyanyikan sebuah lagu.

"Sebagai yang terkuat dari yang kuat, dia adalah dewa kemenangan yang mengalahkan semua musuh. Kartu trufnya adalah 'pedang emas berkilau'. Kusanagi Godou telah merebut pedang itu..."

Istilah Campione menyebut Raja Iblis, pejuang yang telah merebut otoritas para dewa yang telah mereka bunuh. Yakni, monster yang melampaui batas manusia sebagai manusia yang bertarung dengan dewa.

"Bagi makhluk pada tingkat bawahan yang melayani dewa, satu serangan pedang emas akan cukup untuk menghabisi mereka. Tapi, kamu tidak bisa menggunakan pedang itu dengan mudah.​​"

Erica bergumam sambil menyeret lututnya sementara dia mencondongkan tubuh mendekat.

Rasa moralitas Godou memohon agar dia menjauh. Tapi itu sia-sia belaka.

Pada saat ini, Godou tengah duduk di bangku di kapel. Erica duduk berlutut dan bersandar erat padanya.

Kulitnya terasa begitu hangat dan lembut, dengan rasa substansi dan elastisitas yang menakjubkan. Kedua sensasi ini berkembang pesat.

Dirangsang oleh sensasi sentuhan dan rasa berat yang sesuai, Godou bisa merasakan kenikmatan dan klimaks yang meningkat melalui seluruh tubuhnya.

Lalu Erica tersenyum gembira dan mencium pipi Godou dengan ringan di pipi, mendekatkan bibirnya ke telinganya.

"Untuk menempa pedang itu, kamu memerlukan pengetahuan terperinci tentang dewa musuh. Pengetahuan dan kebijaksanaan murid Jepang normal, Kusanagi Godou, yang tidak dilengkapi. Pengetahuan yang mungkin tidak kamu kuasai bahkan dengan bertahun-tahun belajar..."

Erica berbicara pelan. Suaranya begitu menggoda dan menggairahkan.

Sambil merawat luka-lukanya sekarang, dengan paksa dia meraih bibir Godou. Tapi kali ini berbeda. Dia tidak berniat melakukan hal yang sama.

Dia sedang menunggu. Kali ini, dia memikat Godou untuk mengajukan permintaan kepadanya sendirian.

"Tapi, jika mage sepertiku menggunakan mantra [Instruksi], pengetahuan yang dibutuhkan dapat segera dikirimkan kepadamu. Meski merupakan pengetahuan sementara yang hanya bertahan selama satu hari atau lebih, untuk tujuan mengakhiri pertempuran itu cukup, kan?"

Ciuman. Erica dengan enteng membuat kontak dengan daun telinga Godou dengan menggunakan bibirnya.

"Hei Godou, sebagai salah satu Campione, kamu adalah Raja Iblis yang melawan dewa atas nama kemanusiaan. Aku tidak akan membuat ucapan yang tidak bertanggung jawab terkait pertarunganmu, jadi mohon keluarkan perintahmu. Katakanlah, 'Kirimi pengetahuan itu padaku, dan tawarkan bibirmu padaku, Kusanagi Godou.' "

Berdasarkan garis pemikiran ini, kurang-lebih ada rasa perilaku tirani, tapi dia menyuarakannya dengan wajah yang polos.

Tapi bisikan mungil ini menyinari nyala api di hati Godou.

Saat ini ada pelayan dewa yang hendak mengamuk. Dan satu-satunya yang bisa menentangnya saat ini adalah dirinya sendiri. Erica telah mengemukakan semuanya sampai saat ini. Seakan enggan untuk jatuh ke pesonanya, sekarang Godou dalam keadaan berjuang di ambang ditaklukkan.

Dengan kondisi yang cukup memadai, tidak ada jalan lain selain menyerahkan takdirnya—

"...T-Tolong. Ajari aku semua yang perlu kuketahui."

Mendengar ini, senyum lembut muncul di wajah Erica seperti bunga mekar.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mencium bibir Godou. Dia menahan diri, bibir mereka saling menempel selama sepuluh detik. Lalu Erica perlahan membuka bibirnya dan berbicara dengan lembut:

"Tentu saja. Karena itu untuk kemenanganmu, saya akan menawarkan semua hal milikku tidak peduli berapa banyak yang harus dilakukan. Tidak peduli berapa kali, aku akan menempa pedang untukmu, Godou!"

Erica tersenyum dengan tatapan riang.

Itu adalah wajah tersenyum kebahagiaan yang sama sekali tidak memiliki kemewahan dan kenakalannya yang biasa.

"Hoho. Aku tahu itu, dibandingkan dengan menciummu berdasarkan kemauan sendiri, menciummu dengan permintaanmu terasa sangat berbeda. Aku menikmati keduanya, tapi karena bisa menikmati kedua jenis ini sungguh luar biasa."

Erica memeluk Godou erat-erat saat dia berbicara.

Lalu mereka berdua menatap tanpa suara ke mata masing-masing. Sekali lagi bibir mereka saling menempel dan saling berciuman berulang kali.

"Artemis adalah dewi ibu bumi yang agung yang menguasai kehidupan dan kematian. Dewi berburu. Tidak hanya dia berburu mangsa, tapi dia juga ibu yang disembah oleh segudang hewan buas dan burung hutan, dengan beruang sebagai yang terdepan..."

Saat dia berciuman, Erica menceritakan dengan lembut pengetahuan tentang dewi tersebut.

"Sebagai seorang ahli transformasi, dia memiliki kemampuan untuk mengambil bentuk segala macam hewan. Selanjutnya, tubuhnya memiliki ratusan payudara. Ini berdiri sebagai simbol Artemis sebagai ibu kehidupan. Paham? Dewi ini adalah ibu dari semua makhluk, tapi pada saat bersamaan, dia juga adalah pembantai yang memburu kehidupan yang dipeliharanya..."

Saat Godou mendengar kata-kata ini melalui telinganya, bayangan ibu bumi Dewi Artemis juga disampaikan ke dalam pikirannya.

Begitulah efek sihir [Intruksi] yang digunakan oleh Erica.

Apa yang terjadi setelah itu hampir tidak bisa disebut pertempuran.

Karena Godou hanya pergi ke bawah tanah, maju ke kedalaman gua dan memusnahkan hewan dewata yang bentuknya tak tentu dengan hanya "tusukan ringan dengan pedang".

Hewan dewata yang tidur di bawah tanah agak mengerikan.

Sebagian besar tubuhnya terdiri dari lendir abu-abu. Cairan amorf dan kental. Lendir ini terus naik dari seluruh penjuru tanah. Cairan itu tampak mendidih dengan apa yang menyerupai gelembung yang muncul di permukaannya yang tidak rata.

Selanjutnya, bagian tubuh yang menonjol itu mengubah diri mereka menjadi bentuk segala macam hewan dan burung.

Beruang, anjing, sapi, rusa, kuda, babi, babi hutan, domba, kambing, burung hantu, lebah... dll. Transformasi ini terjadi bersamaan di berbagai tempat di tubuh. Cukup melihat pemandangan itu cukup menjijikan sehingga bisa kehilangan nafsu makan seseorang.

Setelah menghancurkan makhluk ini, Godou kembali ke permukaan bersama Erica.

"Aku tidak pernah tahu makhluk semacam itu pun bisa menjadi pelayan dewa..."

"Dibandingkan dengan yang memegang bentuk yang sangat indah, pelayan para dewa lebih berlevel biasa jelek sampai tertinggi. Ini kebetulan kasus yang kedua."

Bahkan saat memberikan deskripsi seperti itu, Erica menunjukkan ekspresi yang tidak biasa.

Bagaimanapun, pekerjaan itu dilakukan dan pasangan itu kembali ke luar biara untuk bertemu dengan Alessia.

"Terima kasih atas kesabaranmu. Hewan dewata di bawah tanah telah dimusnahkan oleh Kusanagi Godou di sini."

"Musnah!?"

Ekspresi Alessia sepertinya mengatakan "Luar biasa!" Saat dia melihat Godou.

Dia mencoba untuk mengartikulasikan perasaan seperti itu menjadi kata-kata. Sama seperti Alessia yang hendak berbicara, Erica tersenyum nakal dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.

"Hanya sebuah peringatan ramah, kecurigaan mengenai Campione—kekuatan untuk membunuh dewa—tidak dapat diucapkan dalam situasi apapun. Itu saja, kalau kamu ingin terus bertahan di dunia sihir."

Sambil memegangi lengan Godou, si cantik pirang itu seolah-olah dia bangga dengan kekuatan kekasihnya.

"Mereka adalah penakluk, Raja Iblis, bangsawan dan juga prajurit. Pembawa kekuatan mutlak yang memperjuangkan kemanusiaan saat [Dewa Sesat] membawa bencana ke Bumi. Meskipun mereka terlihat tidak berbeda dengan kita manusia dalam penampilan, tubuh mereka sebenarnya monster yang sangat jauh dari manusia!"

"S-siapa yang kamu panggil monster!"

"Tentu saja kamu, Kusanagi Godou. Untuk kejadian seperti ini pun, dibutuhkan puluhan orang majus, mempertaruhkan nyawa mereka dalam perjuangan putus asa untuk menyegel hewan dewata dalam sebuah krisis besar yang parah, tahu?"

Sambil mengabaikan protes Godou, Erica mengedipkan mata pada gadis muda itu.

"Dalam waktu dekat, kamu akan bangga dengan kenyataan bahwa kamu pernah bertemu dengan kami. Suatu hari, dunia sihir akan gemetar dihadapan nama besar Campione ketujuh, Kusanagi Godou. Serta ksatria utamanya, Erica Blandelli. Karena kamu telah bertemu keduanya!"

Sama seperti yang diprediksikan Erica pada saat itu, pasangan tersebut terus meraih banyak kemenangan mulai saat ini.

Alih-alih sebuah legenda heroik, selingan kecil ini bisa dianggap lebih sebagai bantuan yang tidak penting dan mudah.



0 Response to "Campione! v16 Bab 1"

Posting Komentar