Jumat, 07 September 2018

My Pet is Holy Maiden 2

Sengaja kasih ini, banyak yg copas--
http://setiakun.blogspot.com
Jangan yg lain tetap di sb translation

2 – Pemanggilan

Malam berikutnya, Tatsumi bermimpi lagi.

Dan setelah bangun, Tatsumi menatap langit-langit dan mengingat kembali mimpi itu.

Ya, itu adalah mimpi yang surealis. Bahkan, itu cukup realistis sehingga dia pun bisa mengingatnya secara detail. Dan entah mengapa, itu semakin realistis saat hari-hari berlalu.

Dalam ruangan yang redup, seperti ruang bawah tanah, holy maiden itu tetap dalam doa-doanya seperti biasa.

Tapi dalam mimpi hari ini, dia melihat betapa putus asanya wanita itu telah berdoa.

Mengambang di kulit perawan putih salju itu adalah butiran-butiran keringat. Lalu, butiran-butiran keringat tersebut mulai menetes dari wajahnya dan menyentuh lantai batu di bawah dengan suara menetes.

Ya, Tatsumi bahkan bisa mengingat detail-detail kecil itu dengan jelas.

“… Kenapa …. Kenapa aku terus memimpikan ini ….” Tatsumi bergumam sambil melihat ke langit-langit.

Karena terus mengalami mimpi yang sama hampir setiap hari, pasti ada alasannya.

Itu adalah pola yang sangat umum, seolah-olah seseorang memanggilnya, pikir Tatsumi — Ini yang disebut pola pemanggilan.

Tapi tidak seperti novel ringan dan komik, sesuatu yang sangat tidak masuk akal tidak mungkin benar.

Biar bagaimanapun, dia tidak punya alasan untuk dipanggil. Tatsumi tidak punya kelebihan di manapun, karena dia hanyalah seorang bocah berusia 16 tahun yang normal.

Tentu saja, dalam banyak novel ringan, seorang Putri dari dunia yang berbeda akan memanggil pahlawan acak untuk menyelamatkan dunianya. Itu adalah setting umum. Namun jika hal itu terjadi pada dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang mungkin dipikirkan Tatsumi.

Daripada itu, Tatsumi sendiri tahu bahwa dia tak bisa terus berduka seperti ini. Dia harus menghadap ke depan dan melanjutkan hidupnya.

Sambil mengatakan pada dirinya sendiri hal tersebut, Tatsumi bangun dari tempat tidur.

Karena dia putus sekolah, dia pikir akan lebih baik jika dia pergi keluar dan mencoba mencari pekerjaan paruh waktu. Sambil memikirkan hal ini, dia mencuci wajahnya dan mengganti bajunya.

Dia berpikir bahwa dia harus membeli majalah atau sesuatu dari toko dan memulai pencariannya untuk pekerjaan paruh waktu.

Tapi ketika dia memikirkan itu, di sudut matanya, dia melihat sangkar burung yang kini kosong yang tidak lagi dihuni Chiiko. Saat dia melakukannya, kesedihan dan keputusasaan ketika dia kehilangan Chiiko sekali lagi mulai bangkit di dalam dirinya.

Banyak waktu menyenangkan yang dinikmati Tatsumi dengan Chiiko terus bermain dalam pikirannya berulang kali.

Lalu, dia menyadari bahwa Chiiko telah tiada selamanya.

Setelah ini terjadi, menjadi sia-sia saja baginya untuk melakukan apa saja. Kesedihan dari kehilangannya membuat dia kewalahan lagi, dan kini mustahil baginya untuk melakukan apa saja.

Karena Chiiko telah tiada, dia tidak lagi punya selera makan dan tidak memasak makanan apapun. Sebaliknya, yang dia makan hanyalah makanan instan yang dia simpan dari toko.

Jadi sekali lagi, tanpa melakukan apapun, Tatsumi menghabiskan seluruh waktunya bersembunyi di apartemennya hari ini.

Dia menatap layar ponselnya, melihat foto-foto keluarganya dan Chiiko yang dia ambil. Saat melakukan ini, dia telah mengambil gitar yang bersandar di sisi tempat tidurnya, entah mengapa, dan mulai memainkannya tanpa sadar.

Gitar ini adalah gitar akustik dan itu adalah kenang-kenangan dari almarhum ayahnya. Ketika dia masih kecil, ayahnya telah memainkannya untuk Tatsumi, dan kemudian memberikan gitar tersebut kepadanya sebagai hadiah.

Di masa mudanya, ayah Tatsumi telah mengumpulkan sebuah band dan dengan sungguh-sungguh bertujuan untuk menjadi seorang gitaris profesional. Pada akhirnya, dia meninggalkan mimpinya. ‘Aku melakukannya dengan baik’, adalah kalimat yang ayahnya suka katakan.

Ayahnya juga mengajarinya cara bermain gitar, dan mampu melakukannya sampai batas tertentu. Tetapi tentu saja, dia tidak punya kemampuan untuk menjadi seorang profesional.

Dia mulai memetiknya tanpa berpikir.

“... Setelah aku memikirkannya, Chiiko biasa menemaniku dengan kicauannya ...” Mengingat ini, suasana gelap melanda Tatsumi sekali lagi.

Dulu, ketika Chiiko masih hidup dan sehat, setiap kali dia memainkan gitar seperti dia sekarang, Chiiko mencocokkan iramanya dengan kicau, seolah-olah untuk bernyanyi bersamanya.

Sambil mengenang hari-hari yang hilang, Tatsumi mulai bermain dengan tenang.

Tiba-tiba, pada saat itu, cahaya terang mulai memancar dari sekeliling tempat tidurnya. Tetapi tempat tidur hanya memiliki bantal dan seprai saja. Tak ada sumber cahaya di atasnya yang bisa memancarkan cahaya yang kuat.

Kendati begitu, ada pendaran tiba-tiba dan misterius yang datang dari tempat tidurnya.

Alasan untuk hal ini tidak diketahui. Tapi tidak ada yang kurang, Tatsumi harus menyipitkan matanya pada gelombang cahaya yang tiba-tiba itu. Malahan, dia tidak punya pilihan selain melakukan itu pada kemunculan fenomena ini secara tiba-tiba.

Saat Tatsumi melakukan itu, cahaya terus menari dengan liar dan mulai berubah menjadi perak. Tapi, dia tidak merasakan panas dari cahaya. Alih-alih panas, cahaya yang agak mempesona memberi perasaan lembut kekudusan.

Dan ketika semua lingkungannya telah berubah menjadi perak, Tatsumi memperhatikan sesuatu di bawahnya.

Tampaknya terdiri dari pola geometris, dengan tulisan aneh dan simbol yang mengelilingi pola.

Pola cahaya bersinar bahkan lebih terang dari cahaya menyilaukan di sekitarnya. Dengan pengetahuan Tatsumi yang terbatas, dia berpikir bahwa itu anehnya mirip dengan lingkaran sihir.

Tapi pada saat itu, kecerahan melandanya, dan bertentangan dengan cahaya di sekitarnya, pikiran Tatsumi jatuh dalam kegelapan.



Perlahan-lahan, Tatsumi mencoba membuka matanya yang tertutup.

Lingkungannya tampak sangat redup. Mungkinkah masih pagi, mungkin sebelum fajar? Ini adalah pikiran yang mengalir di benak Tasumi.

Dia berusaha untuk melihat keluar jendela yang berada di ujung atas tempat tidurnya. Tapi alih-alih jendela, dia disambut oleh tembok yang terbuat dari batu yang sangat megah. Apalagi, sebuah tempat lilin yang tampak mahal dipasang di dinding itu, dan lilinnya menyala.

Tunggu apa? Sejak kapan aku punya dinding batu dan tempat lilin di dinding di apartemenku?

Masih pusing karena tidur, Tatsumi mencoba berpikir.

Setelah kehilangan keluarganya, dia pindah ke apartemen 2K kecil dengan Chiiko. Masih – ketika Chiiko bersamanya – meskipun sendirian, itu cukup memuaskan baginya. Dia sudah cukup bahagia di sana.

Tapi di ruangan ini, semestinya tak ada dinding batu. Tidak, itu bukan hanya terbatas pada kamar Tatsumi, karena hanya ada beberapa rumah di Jepang yang masih ada dinding batu.

Jika tempat ini bukan kamarnya, lantas di mana ini? Sambil memikirkan itu, Tatsumi duduk dan memeriksa sekelilingnya.

Melihat sekeliling tempat tidurnya, dia menemukan bahwa tidak hanya dinding yang terbuat dari batu, tapi semua yang lain termasuk lantai dan langit-langit juga.

Dengan begini, dia mulai bertanya-tanya di mana dia melihat tempat seperti itu sebelumnya. Dia telah melihat sesuatu seperti ini dewasa ini, bukan?

Selain itu, dia melihatnya secara cukup teratur.

Menggaruk bagian belakang kepalanya, Tatsumi mulai melihat sekeliling ruangan lagi.

Tiba-tiba sesuatu memasuki garis pandangnya.

Berlutut di lantai dengan mata terbuka, ada seorang wanita muda yang sedang menatapnya.

Dia berambut panjang berwarna platina-keperakan, dengan mata secantik delima, dan di atas kepalanya ada seikat rambut yang berdiri. Itu yang disebut ‘ahoge’.

Dengan tatapan penuh dan syok, wanita muda itu menatap Tatsumi. Sambil menatapnya dengan sangat intens, Tatsumi juga tanpa sadar membalas tatapannya dan menatapnya.

Lalu, dia menyadari.

Dia tahu wanita ini.

“... Holy maiden ... Dalam mimpiku?”

Iya. Seperti dalam mimpinya setiap malam, di sana di depan dia adalah seorang perempuan yang tampak persis seperti holy maiden yang telah berdoa setiap malam dengan gelisah dalam mimpinya.

Mengambil waktu sejenak untuk merenungkan, dia menyadari bahwa ruangan yang dia tempati kini mirip dengan yang ada di dalam mimpi. Sebaliknya, itu tampak persis seperti ruang bawah tanah dari mimpinya.

Lantas, apakah perempuan ini holy maiden yang sama yang dia lihat dalam mimpinya?

Saat dia melihat ke arahnya ... tubuhnya tiba-tiba diserang oleh dampak yang kuat.

Tatsumi, yang sedang duduk, pingsan di tempat tidur menghadap ke atas karena dia tak bisa menahan dampak mendadak tersebut.

Hah! Apa!? Dia sedikit panik. Tapi dia melihat helai rambut pirang platina menari di depan wajahnya.

Bau manis memenuhi hidungnya, dan dia menyadari bahwa dia telah dirangkul tanpa peringatan.

Pada saat inilah Tatsumi menyadari bahwa dia dipeluk oleh perempuan yang terlihat seperti holy maiden itu.



Perempuan itu tiba-tiba menerkamnya dan memeluknya.

Dia menempel erat padanya dengan lengan rampingnya, dan kemudian berpisah hanya sedikit dan mengintip wajahnya.

Mata merahnya dan mata hitam Tatsumi — bertemu pada jarak dekat.

Air mata yang berkilau memenuhi mata merah delima miliknya. Namun, meski begitu, dia tersenyum gembira pada Tatsumi.

“Akhirnya ... akhirnya aku bertemu ... aku ... aku bersatu kembali dengan dengan ... kau hari ini ... selama bertahun-tahun ... aku menunggu ... Master.”

“Apa? Ha!? Nah, bagaimana ... eh? Ma — master? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Oh ya ... oh ... itu benar-benar kau ... rupamu ... suaramu .... dan bau ini ... tidak diragukan lagi ... aku tidak pernah lupa ... tidak pernah sekalipun ...”

Apa yang dia rasakan saat itu, perasaan air mata perempuan itu menetes di pipinya dari matanya yang bagaikan permata.

Merasakan air mata di pipinya, Tatsumi akhirnya menyadari situasi yang dia hadapi dan posisi mereka berada di sana dan dia mulai memerah.

Mereka berdua berpelukan di atas tempat tidurnya.

Karena berat badannya yang bertambah, mereka terjatuh dan dia merasakan kelembutan tubuh perempuan itu melawan tubuhnya sendiri.

Tapi dia tidak berat sama sekali. Tingginya hampir sama dengan Tatsumi, tapi tampaknya dia lebih berat daripada Tatsumi.

Dan seperti yang diharapkan, hal yang paling dia perhatikan adalah dua gundukan luar biasa lembut dan besar yang mendorong ke dadanya. Itu tentu saja bagian ‘itu’ yang melambangkan semua wanita.

Setiap kali dia bergerak, dadanya menggelitik lembut Tatsumi.

Nah dia mulai memperhatikan beberapa rincian yang belum pernah dia lihat dalam mimpinya sebelumnya, seperti pakaiannya. Itu tampaknya sehelai kain yang sangat tipis, melilit tubuhnya dengan longgar.

Awalnya gelap dan dia tidak menyadarinya, tapi kini karena jarak mereka telah mendekat, dia bisa melihat kulitnya melalui pakaian transparan.

Secara tidak sengaja, Tatsumi benar-benar tertarik ke lembah di dadanya, dan garis pandangnya segera dipenuhi dengan pemandangan baru ini. kendati dia tak bisa melihat ceri lembut berwarna pink di bagian atas payudaranya, dia bisa mengatakan bahwa kekuatan penghancur dari payudaranya teramat tinggi. Dalam skala 100, itu setidaknya 85 atau 90.

Kenapa dia memikirkan hal-hal seperti itu kemungkinan besar karena fakta bahwa dia adalah seorang pria muda yang sehat, dan pria muda yang sehat adalah makhluk yang menyedihkan. Tentu saja fakta bahwa dia, Tatsumi, berpikir bahwa dalam situasi saat ini adalah suatu bentuk melarikan diri dari kenyataan.

Melihat ke bawah pada Tatsumi, wanita muda itu mulai tertawa pelan. Tentu saja dia menyadari pandangan Tatsumi, hal lain yang berbeda.

“... Untuk bisa bertemu denganmu lagi dengan cara ini ... Aku sangat senang ... Master!”

“Tunggu apa!? Aku apa? Apa, di mana ... Apa? kau — mastermu? Aku? Apa kau membicarakan aku?”

“Ya, apakah kau bukan masterku?” katanya sambil tersenyum dan tertawa dari lubuk hatinya.

Saat dia bertanya sebelumnya, sepertinya gadis ini pernah bertemu Tatsumi di masa lalu.

Tapi Tatsumi tidak fokus. Dia tidak punya kenangan untuk bertemu gadis seperti itu sebelumnya.

Biar bagaimanapun, ia hampir tidak punya pengalaman sebelumnya dengan orang asing. Dia bahkan belum berbicara dengan banyak orang di jalan sebelumnya, sekali atau mungkin dua kali, ketika mereka menanyakan arah atau sesuatu.

Dan, belum lagi, kecantikan berambut platina bermata delima ​​seperti dia? Dengan ciri khas seperti itu, sangat tidak mungkin dia akan melupakan seseorang seperti dia.

Seakan membaca pikirannya, dia terus berbicara.

“Master mungkin tidak mengingat aku, karena aku berada dalam bentuk yang berbeda dari ketika Master mengenal aku sebelumnya.”

“Apa? Apa artinya itu? Kau berbeda dari ketika aku mengenalmu sebelumnya?”

Secara tidak sadar setelah melihat tatapan kosong Tatsumi, dia mulai terkekeh. Dia melepaskan Tatsumi dari pelukannya dan duduk di atas Tatsumi, seolah-olah untuk memperbaiki postur tubuhnya.

“Maaf untuk pengenalanku yang telat. Namaku adalah Calcedonia Chrysoprase. Aku seorang pendeta Gereja Savaiv dari Kerajaan Largofiely.”

Ujarnya, dan mempertahankan posturnya yang seperti seiza, membungkuk dengan tenang.

“Huh ..? Err .. Namaku Yamagata Tatsumi.”

“Iya, aku tahu.”

Gadis yang mengidentifikasi dirinya sebagai Calcedonia tersenyum. Melihat senyumnya, bisa dipercaya bahwa kebanyakan pria di dunia ini atau dunia lain akan benar-benar terpikat olehnya. Senyum seperti itu adalah kualitas terbaik yang harus dilihat.

Tapi dengan senyuman yang diarahkan padanya, kebingungan Tasumi tumbuh semakin dalam.

Tentu saja itu karena dia tahu namanya, tapi lebih dari itu karena dia berbicara tentang beberapa kata yang sangataneh.

Dengan begini, pikiran mulai terbentuk di pikiran Tatsumi. Namun sebelum dia bisa menyuarakannya, Calcedonia terus berbicara.

“Master, kau mungkin tidak kenal aku saat ini, tapi aku kenal kau ... tidak, aku mengingat kau lebih baik daripada siapapun di dunia ...”

Dia mulai menatapnya dengan tatapan tulus. Dalam pandangan inilah Tatsumi merasakan déjà vu.

Dulu, dia telah dilihat oleh tatapan ini. Dan itu dari posisi kosong seperti ini juga

Misalnya, di telapak tangannya, atau di pundaknya, atau kadang-kadang duduk di lututnya.

Entah mengapa, tatapannya sangat mirip dengan anggota keluarga tersayangnya ...

“... Chiiko ...”

Secara tidak sengaja, nama itu keluar dari bibirnya. Dan saat dia mendengarnya, Calcedonia melontarkan senyum paling indah dan agung yang pernah dia tunjukkan.

Siapapun bisa melihat perasaan di balik senyum cantik itu adalah kebahagiaan besar, tanpa sedikitpun kebencian dan keraguan.

“Iya! Ya, itu betul!! Aku ... aku Chiiko!!! Master ... aku hewan peliharaanmu! Chiiko hewan peliharaanmu!!”
My Pet is Holy Maiden 2

Diposkan Oleh: setia kun

0 Komentar:

Posting Komentar