Jumat, 07 September 2018

My Pet is Holy Maiden 5

Sengaja kasih ini, banyak yg copas--
http://setiakun.blogspot.com
Jangan yg lain tetap di sb translation

5 – Alasan Dibalik Pemanggilan

“Tolong maafkan aku karena terlambat!”

Kata Calcedonia meminta maaf selagi memasuki ruang tamu yang Tatsumi dan Giuseppe tunggu di sana. Dia berhenti dan menunduk meminta maaf pada awal ucapannya.

“Kenapa kau lama sekali? Menantu sudah lelah menunggumu.”

Tertawa pelan, Giuseppe menegur cucunya.

“Ah! N-Nggak, karena percakapan Giuseppe-san cukup menghibur, dan itu bukannya aku lelah menunggu atau apapun ...”

“B-Benarkah? Fiuh, syukurlah.”

Menempatkan tangan di dadanya yang melimpah, Calcedonia menghela napas lega.

Menyaksikan pertukaran antara dua anak muda, Giuseppe tertawa pelan, dan meminta cucunya untuk duduk di sebelah Tatsumi.

“Yah, sekarang Calsey ada di sini, mari kita jelaskan semuanya dari awal.”

Mendengar ini, Tatsumi duduk dengan perhatian.

Dia tidak lagi meragukan bahwa kini dia berada di dunia lain, pertanyaan besarnya adalah mengapa dia dipanggil ke sini.

Itu tidak ada hubungannya dengan dia yang diminta menjadi pahlawan dan menyelamatkan dunia dari Raja Iblis, kan? Sambil memikirkan itu di dalam hatinya, dia menunggu penjelasan Giuseppe.

“Pertama-tama, selamat datang di Kerajaan Largofiely, Menantu. Aku dan cucuku, Calsey, kami senang kau ada di sini dari lubuk hati kami.”

“Ah, ya, terima kasih .....?”

Tatsumi gelisah tentang bagaimana membalasnya, jadi dia pun berterima kasih kepada mereka dengan sopan. Mengetahui jawabannya yang memalukan jadi menghibur, Giuseppe dan Calcedonia tertawa kecil bersama.

“Jadi ... kami juga meminta maaf, Menantu, karena tiba-tiba membawamu ke dunia ini. Sekali lagi, kami sangat minta maaf.”

Pada gilirannya, Giuseppe dan Calcedonia menundukkan kepala mereka untuk menunjukkan permintaan maaf mereka.

“Um .. itu, tolong angkat kepala kalian, tidak apa-apa, sungguh!”

“Tidak! ... Kami ... maksudku, aku memanggil Master sendiri tanpa memikirkan keadaanmu. Aku telah menjauhkanmu dari kehidupanmu tanpa menanyakan pendapatmu, Master.”

Calcedonia terus menunduk, dan Tatsumi menatapnya dengan ekspresi terkejut.

Dari apa yang dia katakan, meskipun dia mampu memanggilnya ke sini, mungkin tidak ada cara baginya untuk kembali ke dunia lamanya.

Itu sebabnya Calcedonia melangkah jauh untuk menyatakan ‘menjauhkanmu dari kehidupanmu secara paksa’.

“Jadi begitu. Tapi untuk sekarang, tolong angkat kepala kalian, dan katakan padaku .... Katakan padaku alasan mengapa kau membawaku ke sini. Alasan kau memanggilku ke dunia ini.”

Dia memanggilnya ke dunia ini. Sambil merasa bersalah dan menyadari fakta bahwa dia tidak akan dapat mengirimnya kembali, dia masih memanggilnya. Dan dia ingin tahu alasannya.

 

Setelah Tatsumi mengatakan itu, keduanya pun mengangkat kepala mereka.

Lalu, menghadapi keduanya, Tatsumi menatap tenang mereka.

Untuk sesaat, keheningan memenuhi ruang tamu. Tapi kemudian tiba-tiba, suara keras terdengar dari luar jendela.

Suara itu adalah dentang lonceng dari suatu tempat di Gereja Savaiv untuk mengumumkan waktu. Saat dia mendengarkan dengan hati-hati, dia mendengar lebih banyak lonceng berdentang dari kejauhan. Mungkin, gereja-gereja lain juga melakukan hal yang sama.

Tiga kali lonceng berbunyi, dan ketika itu berakhir, Calcedonia mulai berbicara seolah-olah dia mengambil akhir lonceng sebagai pemicu.

“Alasannya ... karena aku membawamu ke sini, Master .... Alasan terbesar ... itu karena aku ingin bertemu kau sekali lagi, Master, bagaimanapun caranya.”

Wajahnya semerah bunga sakura, Calcedonia meletakkan kedua tangannya di pipinya dan memberikan alasannya dengan malu-malu.

“Apa ….? Itu saja ….?”

Tanpa sadar, wajah Tatsumi menjadi kosong.

Yah, siapapun akan menunjukkan reaksi yang sama jika mereka mengetahui bahwa mereka telah dipanggil ke dunia lain karena pemanggil “Ingin bertemu lagi.”

Pada saat yang sama, Tatsumi sedikit lega karena alasannya bukan, ‘Menjadi dan pahlawan dan menghabisi raja iblis!’.

“Iya …. Dan …”

Calcedonia memandang Tatsumi dengan mata menengadah gembira. Ekspresinya lalu berubah menjadi serius dan dia melanjutkan.

“Aku ... cemas …. Teramat-amat cemas. Aku cemas, dan tak bisa menyingkirkan perasaan tidak enakku. Hari itu ketika aku mati dalam pelukanmu, raut wajahmu, seolah-olah kau putus asa dengan setiap hal di dunia ini. Kau berekspresi menyakitkan, aku tak bisa melupakan apapun yang terjadi. Master …. Aku berpikir bahwa ... Master mungkin bunuh diri …… aku prihatin …. dan menyesal.”

Pada kata-kata Calcedonia, tubuh Tatsumi menjadi lumpuh karena terkejut.

Dia teringat napas Chiiko yang sekarat di pelukannya. Ketika Chiiko meninggal dunia, dia merasa seolah dunia di sekitarnya telah runtuh.

Seperti yang telah ditunjukkan oleh Calcedonia, setelah Chiiko meninggal dunia, Tatsumi menjadi sendirian. Tanpa ada keluarga yang peduli, dia mencoba beberapa kali bunuh diri.

Pernah dia menekan pisau kater di pergelangan tangannya. Namun pada akhirnya dia tidak bisa melanjutkan, hanya karena dia tidak punya nyali.

“Khawatir tentang bagaimana Master sendirian, aku berkomitmen untuk belajar tentang pemanggilan ritual sejak saat aku memiliki kesadaran tentang kehidupan masa laluku. Untungnya, kakek menemukan aku ketika aku masih kanak-kanak di Katedral Savaiv dan membawaku ke sini. Gereja memiliki banyak bahan tentang sihir sehingga itu menyelamatkan aku banyak masalah.”

“Huh? Kau dibawa ke sini?”

“Iya. Entah mengapa, aku mengadopsi dia pada usia dini.”

Giuseppe telah mengadopsi Calcedonia. Hubungan mereka seharusnya seperti ayah angkat dan anak perempuan, tapi berubah menjadi kakek dan cucu karena perbedaan usia yang sangat besar.

Berpaling dari kakeknya dengan senyum penuh terima kasih, Calcedonia berbalik untuk menghadapi Tatsumi dan selanjutnya melanjutkan.

“Awalnya aku berencana untuk menyeberang ke dunia Master, tapi kemanapun aku mencari, aku tidak dapat menemukan dokumen atau materi tentang seni, ritual, atau upacara yang terkait. Tapi yang kutemukan adalah ...”

“...... Bukan sesuatu yang bisa membantumu menyeberang ke dunia lain, tapi membawa seseorang ke sini .....?”

Dalam konfirmasi untuk pertanyaan Tatsumi, Calcedonia mengangguk kecil.

Dia tidak hanya mencari di arsip gereja.

Bahkan, dengan bantuan kakeknya dalam kapasitasnya sebagai Patriark Doktrin Savaiv, dia mencari sumber apapun yang dapat dia pikirkan termasuk berbagai arsip kerajaan. Tapi, dia hanya dapat menemukan informasi untuk upacara untuk memanggil Tatsumi ke dunia ini.

“... Tetap saja, itu adalah harapan tersayangku. Jadi pada waktu itu aku memutuskan untuk melakukan upacara untuk membawamu ke sini. Karena aku akan menjadi pelaku utama yang akan membuatmu menyerahkan semua yang kau miliki, aku siap untuk dibenci, jijik oleh Master. Meskipun begitu, aku masih ingin bertemu Master sekali lagi ….”

Dan begitulah dia mengkhawatirkan masternya, kata Calcedonia dengan suara kecil.

 

“Nah, Menantu.”

Dengan itu, penjelasan Calcedonia pun telah berakhir. Tapi setelah itu suasana hening tetap ada di antara mereka.

Untuk memecahkan es yang telah menyelesaikan percakapan, kali ini Giuseppe-lah yang mengalihkan perhatiannya ke arah Tatsumi.

“Bolehkah aku bertanya padamu?”

“Ah, ya, kalau aku bisa menjawab.”

“Tampaknya kau menangani ini dengan cukup baik, Nak. Aku harus mengatakan bahwa kau tampaknya tidak terlalu bingung atau terkejut oleh semua ini.”

“I—iya?”

Kata Tatsumi, dengan ekspresi kebingungan. Saat itulah dia merasakan tatapan dari pria tua yang penuh dengan ketajaman dan martabat, daripada yang biasa-biasa saja.

“Bagiku, jika seseorang dibawa secara tiba-tiba ke dunia baru yang berbeda, akan ada kesulitan atau kekacauan? Tapi, kau, di sisi lain, tidak terlihat seperti itu. Kau memang agak bingung dengan semua ini, tapi tampaknya kau tidak terlalu tertekan sama sekali. Di sisi lain …. Sepertinya kau tenang dan biasa saja soal ini.”

“Itu, yah ...”

Wajahnya memerah, tatapan Tatsumi berkeliaran sedikit. Lalu berhenti pada Calcedonia sebelum melanjutkan ke Giuseppe.

“Itu ... datang ke dunia, bertemu seorang gadis cantik ...... dan kemudian tiba-tiba dirangkul olehnya ..... artinya ... waktu itu ...”

Tatapan Tatsumi bertemu dengan Calcedonia lagi.

“... Dia …. Karena dia mengingatkanku pada Chiiko ... meskipun hal reinkarnasi itu sulit dipercaya ... Perilakunya sangat pas dengan gaya Chiiko. Jika benar bahwa dia adalah Chiiko yang terlahir kembali, daripada menyembunyikan kebencian terhadapnya, seharusnya aku berterima kasih padanya. Sejujurnya, aku senang bertemu dengannya lagi ... kalaupun rupanya berubah …..”

“Ma-Master ...!”

Bahwa Calcedonia adalah Chiko yang terlahir kembali, adalah sesuatu yang sekarang hampir dapat dipercayai oleh Tatsumi. Kehadiran Calcedonia benar-benar terasa familier bagi Chiiko. Dan dia tahu beberapa hal yang hanya diketahui Chiiko. Yang paling penting, dia benar-benar mengingatkannya pada Chiiko.

Tatsumi duduk tanpa bergerak dan menatap lurus ke arah Calcedonia. Dan Clacedonia yang tengah menatapnya dengan emosi ketika air mata yang jernih mulai jatuh dari mata merah delima.

Giuseppe memperhatikan tatapan dua orang itu dengan rasa syukur, dan merasa lega, mengeluarkan tawa ceria.

“Menantu, aku pikir aku sekarang mengerti pemikiranmu. Tapi, apakah kau tidak punya perasaan terhadap dunia asalmu?”

“Mm-hmm. Aku sungguh tidak punya penyesalan soal dunia lamaku.”

Segala hal yang akan mengikatnya ke dunia aslinya — keluarga tercintanya dan teman-teman dekatnya, sebagian besar adalah Chiiko tersayangnya — hilang semua.

Jadi menanggapi pertanyaan Giuseppe, Tatsumi mengangguk dengan tekad.

 

Dari luar ruang tamu, seseorang mengetuk pintu.

Sebagai tanggapan, Giuseppe bertanya, dan suara remaja putri muda bisa didengar.

“Yang Mulia, saya minta maaf karena mengganggu pembicaraan Anda dengan tamu Anda. Tapi apakah Lady Calcedonia ada di sini?”

“Ya, aku di sini tapi.”

“Ini akan menjadi waktu khotbah Anda segera. Orang-orang beriman telah berkumpul di kapel saat ini.”

“Ah, kalau dipikir-pikir lonceng yang baru didentingkan tiga, bukan? Aku mengerti. Aku akan segera datang.”

Calcedonia membalas wanita di sisi lain pintu.

Lalu Calcedonia berdiri dan membungkuk ke arah Giuseppe dan Tatsumi.

“Baiklah, Kakek, Master. Karena tugasku, aku akan pergi sekarang.”

“Ya, untuk melakukan pekerjaan dewa juga penting. Aku harap kau tidak akan melupakan hal itu”

“Kalau begitu Chiiko ... Tidak, aku kira itu bukan Chiiko sekarang ... Err.”

“Nggak, Chiiko juga boleh, Master. Aku berharap kau terus memanggilku dengan nama itu.”

Sekali lagi, Calcedonia membungkuk cepat dan meninggalkan ruang tamu dengan tenang.

 

Sambil pergi, pipinya memerah yang dilihat kakeknya, tapi seperti biasa dia hanya tersenyum singkat tapi tidak mengatakan apa-apa.

Lalu Calcedonia meninggalkan ruang tamu, diikuti oleh pendeta dalam perjalanan ke kapel untuk memberikan khotbah.

Sepanjang jalan,

“U—um Lady Calcedonia .....?”

“Ad~da apa, ya?”

Dengan ekspresi ceria dan senyum cerah, Calcedonia berbalik dengan putaran.

“Hari ini, umm … saya mohon maaf karena terus terang tapi …. apakah sesuatu yang baik terjadi?”

Pendeta itu bingung.

Biasanya Calcedonia memiliki ekspresi yang tenang, tapi sekarang wajahnya yang cantik telah mengalami metamorfosis yang tidak biasa. Sekarang dia terus tersenyum, dan menjawab orang dengan ramah.

Dia biasanya memperlakukan semua orang sama, dengan senyum dingin di wajahnya. Bahkan ketika dia melakukan khotbahnya, dia selalu memiliki sikap yang keras dan dingin ketika dia berkhotbah tentang dewa.

Dan Calcedonia yang dingin yang selalu menyerupai pisau terhunus juga merupakan subjek aspirasi bagi banyak orang beriman. Tapi Calcedonia hari ini berbeda.

Dia teramat ceria hari ini. Dan cara dia berjalan, itu melompat-lompat.

Calcedonia dan pendeta, meskipun tidak sedekat itu, memiliki semacam persahabatan, di mana mereka akan mengobrol singkat sekarang dan nanti.

Melihat Calcedonia, bahkan untuk pendeta itu bisa saja untuk mengatakan bahwa dia gembira dan bahagia. Sebaliknya, dia terlalu lincah.

Itulah mengapa dia menanyakan pertanyaan itu sebelumnya.

Namun sekarang, Calcedonia yang biasanya dingin dan keras, seakan dia adalah seorang gadis yang sedang jatuh cinta, menunjukkan ekspresi yang sangat malu-malu menjawab pendeta perempuan itu. Itu adalah sesuatu yang tidak dapat terpikirkan oleh orang-orang yang mengenalnya.

Matanya memiliki tanda-tanda air mata kegembiraan selain memiliki cahaya demam panas di dalamnya, dan pipinya memerah merah muda. Dia meletakkan telapak tangannya di pipinya seakan menyembunyikannya. Namun tatapannya telah melayang ke arah yang jauh.

“Karena …… dia menerimaku. D-Dan juga dia .... dia berkata .. bahwa aku cantik ...”

Calcedonia menggeliat dalam kebahagiaan, dengan aura merah muda yang berhamburan darinya.

Melihat Calcedonia di depan matanya, pendeta itu terkejut dan berpikir

—Gawat! Jika Lady Calcedonia berbicara di depan orang-orang beriman dengan keadaan begini, itu akan berubah menjadi situasi yang berantakan. Karena ... harapan orang-orang beriman akan hancur menjadi debu.

 
My Pet is Holy Maiden 5

Diposkan Oleh: setia kun

0 Komentar:

Posting Komentar